wisata museum di jakarta

5

May

2014

Museum Polri

Salah satu Museum yang baru di Jakarta adalah Museum Polri. Terletak di Jl. Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Usia Museum Polri memang masih tergolong muda diantara museum-museum yang ada di Jakarta. Namun museum ini sarat dengan informasi sejarah Polri mulai dari masa pra kolonial hingga saat ini. Ide pembangunan Museum Polri dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dengan tujuan melestarikan nilai-nilai kesejarahan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pewarisannya kepada generasi mendatang. Polisi Indonesia adalah polisi pejuang sejak dicetuskannya Proklamasi Kemerdekaan RI. Deklarasi Polisi Istimewa di Surabaya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dilanjutkan dengan konsolidasi organisasi kepolisian yang bersifat nasional pada 1 Juli 1946 oleh Kepala Kepolisian Negara Jenderal Polisi R.S. Soekanto menjadi dasar keunikan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia dibanding institusi kepolisian negara-negara lain. Peresmian Museum Polri dilakukan oleh Presiden SBY pada 1 Juli 2009, bertepatan dengan HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan hari Bhayangkara. Lokasi museum berdampingan dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Dengan biaya masuknya yang gratis, museum yang di depannya terlihat patung Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo ini, Anda akan akan disuguhkan oleh ribuan foto-foto dan berbagai benda bersejarah perjalanan Polri sejak perang kemerdekaan Polri dari zaman kemerdekaan, masuk ke dalam Angkatan

25

Apr

2014

Museum Joang 45

Sejatinya Museum Joang 45 ini dahulu merupakan sebuah hotel yang bernama Schomper 1 milik seorang pengusaha Belanda bernama LC Schomper. Hotel ini khusus diperuntukkan bagi pejabat Belanda, pengusahaa asing, dan pejabat pribumi. Namun, saat penjajahan Jepang, hotel ini diduduki oleh para pejuang muda Indonesia dan menjadikannya menjadi asrama sekaligus tempat pendidikan nasionalisme pemuda Indonesia. Di tempat ini, beberapa tokoh nasional dilibatkan untuk mendidik para pemuda tersebut. Diantaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh lainnya.  Hotel Schomper 1 pun akhirnya diganti dengan nama Gedung Menteng 31, sesuai dengan alamatnya. Baru pada Agustus 1974, setelah melewati berbagai renovasi, Gedung Menteng 31 diresmikan sebagai Museum Joang 45 oleh Presiden Soeharto dan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu. Penamaan Museum Joang 45 dilatarbelakangi oleh peranan tempat ini dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Museum ini juga dikenal dengan nama Gedung Joang 45. Koleksi yang terdapat di dalamnya pun seakan menggambarkan kembali bagaimana perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu, terutama pada tahun 1945. Diantara koleksi bersejarah yang ada di museum ini terdapat foto-foto para pemuda yang terlibat dalam kegiatan di Gedung Menteng 31 pada masa lalu. Bahkan, juga terdapat koleksi mobil dinas Presiden dan Wakil Presiden RI pertama yang dikenal dengan

4

Apr

2014

Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda terletak di jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Di gedung inilah Kongres Pemuda II digelar dan Sumpah Pemuda yang bersejarah itu dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 lalu. Tahun 1927, organisasi Pemuda Indonesia didirkan. Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw. Pada tahun 1928, Gedung Kramat 106 dijadikan tempat Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda. Bangunan ini pada awalnya merupakan rumah pribadi Sie Kong Liong. Pada awal abad ke-20, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat latihan kesenian dan diskusi politik. Barulah ada September 1926 dibentuk Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) sekaligus menjadi kantor PPPI dan redaksi majalah PPPI. Mulai dari situlah tempat ini dijadikan tempat kongres berbagai organisasi pemuda. Asal mula pembentukan organisasi-organisasi pemuda, seperti Tri Koro Darmo, Jong Sumatrenen Bonds, Jong Minahasa, Jong Ambon, hingga PPPI, diawali dengan pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai titik awal kebangkitan bangsa Indonesia. Mengingat pentingnya gedung tersebut untuk sejarah Sumpah Pemuda, maka Pemda DKI Jakarta menetapkan Gedung Kramat 106 sebagai benda cagar budaya. Setelah dipugar, Gedung Kramat 106 dijadikan museum. Namanya Gedung Sumpah Pemuda. Museum ini diresmikan pada tanggal 20 Mei 1973 oleh Presiden Soeharto. Tanggal 7 Februari 1983, Gedung Sumpah Pemuda

4

Apr

2014

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Terletak di di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat, Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa. Gedung ini dulunya sempat berubah fungsi menjadi British Council General, hingga saat Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia, karena pada 16 – 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Rumah yang kini menjelma menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini adalah saksi sejarah dari lahirnya naskah proklamasi, mulai dari persiapan, perumusan naskah, pengetikan, hingga pengesahan dan penandatangan naskah. Pada 1984, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Pada tahun 2002, pengurusan Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari, kecuali Senin dan hari-hari besar. Pengelola museum