objek wisata sejarah di jakarta

4

Apr

2014

Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda terletak di jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Di gedung inilah Kongres Pemuda II digelar dan Sumpah Pemuda yang bersejarah itu dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 lalu. Tahun 1927, organisasi Pemuda Indonesia didirkan. Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw. Pada tahun 1928, Gedung Kramat 106 dijadikan tempat Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda. Bangunan ini pada awalnya merupakan rumah pribadi Sie Kong Liong. Pada awal abad ke-20, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat latihan kesenian dan diskusi politik. Barulah ada September 1926 dibentuk Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) sekaligus menjadi kantor PPPI dan redaksi majalah PPPI. Mulai dari situlah tempat ini dijadikan tempat kongres berbagai organisasi pemuda. Asal mula pembentukan organisasi-organisasi pemuda, seperti Tri Koro Darmo, Jong Sumatrenen Bonds, Jong Minahasa, Jong Ambon, hingga PPPI, diawali dengan pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai titik awal kebangkitan bangsa Indonesia. Mengingat pentingnya gedung tersebut untuk sejarah Sumpah Pemuda, maka Pemda DKI Jakarta menetapkan Gedung Kramat 106 sebagai benda cagar budaya. Setelah dipugar, Gedung Kramat 106 dijadikan museum. Namanya Gedung Sumpah Pemuda. Museum ini diresmikan pada tanggal 20 Mei 1973 oleh Presiden Soeharto. Tanggal 7 Februari 1983, Gedung Sumpah Pemuda

4

Apr

2014

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Terletak di di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat, Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa. Gedung ini dulunya sempat berubah fungsi menjadi British Council General, hingga saat Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia, karena pada 16 – 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Rumah yang kini menjelma menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini adalah saksi sejarah dari lahirnya naskah proklamasi, mulai dari persiapan, perumusan naskah, pengetikan, hingga pengesahan dan penandatangan naskah. Pada 1984, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Pada tahun 2002, pengurusan Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari, kecuali Senin dan hari-hari besar. Pengelola museum