4

Apr

2014

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Terletak di di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat, Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa. Gedung ini dulunya sempat berubah fungsi menjadi British Council General, hingga saat Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris.

Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia, karena pada 16 - 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Rumah yang kini menjelma menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini adalah saksi sejarah dari lahirnya naskah proklamasi, mulai dari persiapan, perumusan naskah, pengetikan, hingga pengesahan dan penandatangan naskah. Pada 1984, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

museum perumusan naskah proklamasi

Pada tahun 2002, pengurusan Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari, kecuali Senin dan hari-hari besar. Pengelola museum selalu mengadakan berbagai kegiatan bersifat edukatif, seperti dialog interaktif kesejarahan, pemutaran film dokumenter, dan pameran tokoh pergerakan nasional. Koleksi museum perumusan naskah proklamasi diantaranya, perabot rumah tangga seperti kursi-kursi yang berada saat penyusunan, foto-foto tokoh yang menyusun naskah proklamasi, kaset, mata uang kertas, cap atau stempel, koran, lukisan, buku, poster, patung.

Selain koleksi berupa benda yang berkaitan dengan proklamasi Indonesia, museum memiliki koleksi berupa ruang-ruang yang merupakan tempat proses yang melahirkan proklamasi bagi Indonesia. Ruangan pertama merupakan tempat persiapan perumusan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa sofa empuk. Di sinilah Maeda menyambut kedatangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Sobardjo sekembalinya mereka dari Rengasdengklok. Selanjutnya diruang kedua yang menjadi tempat dirumuskannya naskah proklamasi pada 16 Agustus 1945. Di ruangan ini, Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo mengitari sebuah meja bundar. Dengan tangannya sendiri Bung Karno menuliskan naskah proklamasi, sedangkan Bung Hatta dan Achmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.

Sementara itu sempatkan mendatangi ruang ketiga yang merupakan tempat pengesahan dan penandatangan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno di hadapan 27 tokoh pergerakan bangsa Indonesia yang hadir. Sementara ruang keempat, tepatnya di bawah tangga, merupakan tempat pengetikan naskah proklamasi oleh Sayuti Melik, yang ditemani oleh BM Diah. Nah, apabila Anda berjalan sedikit ke halaman belakang museum masih bisa menemukan sebuah bungker rahasia. Jika menyusuri bunker tersebut lebih jauh dan menuruni anak tangga, pengunjung akan bertemu dengan sebuah kamar rahasia selebar 5 meter dengan panjang 3 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter.

About The Author

Thomas Audy

Leave a Reply